Kajian Budaya Teknologi, Media, dan Komunikasi


Budaya memiliki banyak definisi. Salah satunya, Koentjaraningrat (1990) mengatakan bahwa budaya adalah sebagai sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.  Dalam meneliti budaya media yang tekini dan terbaru, Stuart Hall memperkenalkan cultural studies sebagai pendekatan kontemporer yang mengkritik pendekatan empiris dan kuantitatif para ilmuwan dalam mempelajari budaya.
Cultural studies atau kajian budaya merupakan perspektif teoritis yang berfokus bagaimana budaya dipengaruhi oleh budaya yang kuat dan dominan. Kajian budaya berkaitan dengan sikap, pendekatan, dan kritik mengenai sebuah budaya (West dan Turner, 2008). Salah satu pondasi terpenting bagi pendekatan yang memandang budaya sebagai kegiatan sehari-hari adalah pemahaman tentang konstruksi sosial atas realita. Dalam perspektif ini realitas dipahami dan diabaikan, diperbincangkan dan dilupakan, dihidupi atau dimatikan, dikelola atau dirusak, dimanfaatkan atau dihindari, berdasarkan sistem konstruksi yang beredar di kalangan warga masyarakat. Tugas cultural studies adalah membongkar dan memaparkan unsur-unsur penyusun konstruk tersebut dan cara kerjanya, agar manusia sebagai subyek dapat melibatkan diri secara aktif dalam dunia konstruksi.
Kajian budaya atau cultural studies dilakukan untuk memahami konteks yang tertanam pada teori itu sendiri, metode dan praktek dan spesifisitas pada lembaga dan disiplin mereka, pada saat yang sama yang melakukan analisis fenomena tertentu yang diteliti.  Kajian budaya menuntut sebuah pekerjaan yang melangsungkan teori dalam hubungannya dengan analisis berkelanjutan perubahan konjungtur sejarah. Hal ini membuat kajian budaya bekerja sangat sulit bila dilakukan secara ketat.
Sardar dan Van Loon (2005) memberikan karakteristik serta batasan dalam kajian ini :
1. Cultural studies bertujuan menelaah persoalan dari sudut praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan hubungan kekuasaan dan mengkaji bagaimana hubungan tersebut mempengaruhi dan mambentuk praktik-praktik kebudayaan.
2. Cultural studies tidak hanya semata-mata studi mengenai budaya, seakanakan budaya itu terpisah dari konteks sosial dan politiknya. Tujuannya adalah memahami budaya dalam segala bentuk kompleksnya dan menganalisis konteks sosial politik tempat dimana budaya itu mewujudkan dirinya.
3. Budaya dalam cultural studies selalu menampilkan dua fungsi : sekaligus merupakan objek studi dan lokasi tindakan kritisisme politik. Cultural studies bertujuan menjadi keduanya, baik usaha pragmatis maupun intelektual.
4. Cultural studies berupaya menyingkap dan mendamaikan pengotakan pengetahuan, mengatasi perpecahan antara bentuk (pengetahuan yang tak tampak pengetahuan intuitif berdasarkan budaya lokal) dan yang objektif (yang dinamakan universal). Bentuk-bentuk pengetahuan cultural studies mengasumsikan suatu identitas bersama dan kepentingan antara yang mengetahui dan yang diketahui, antara pengamat dan yang diamati.
5. Cultural studies terlibat dengan evaluasi moral masyarakat modern dan dengan garis radikal aksi politik. Tradisi cultural studies bukanlah tradisi kesarjanaan yang bebas nilai, melainkan tradisi yang punya komitmen terhadap rekonstruksi sosial dengan terlibat kedalam kritik politik. Jadi, cultural studies bertujuan memahami dan mengubah struktur dominasi dimanapun, tetapi secara lebih khusus dalam masyarakat kapitalis industri.
Teknologi dan media menjadi hal yang sangat menarik untuk diteliti dalam cultural studies sebab teknologi berkembang sangat cepat, ada dimana-mana, dan seringkali merubah pola hidup manusia. Peran teknologi dalam budaya yang perlu dipahami sebagai berikut: (a) teknologi media baru memainkan peran sentral dalam perubahan konfigurasi politik ekonomi global (b) teknologi media baru memberikan kontribusi untuk mendefinisikan sebuah organisasi pengetahuan baru (c) teknologi media baru memainkan peran mencolok dalam budaya populer.
Dalam kajian budaya ini, identitas lebih bersifat kultural dan tidak punya keberadaan di luar representasinya sebagai wacana kultural. Identitas bukanlah sesuatu yang tetap dan bisa di simpan. Melainkan sebagai suatu proses untuk menjadi. Identitas juga dapat dimaknai sebagai genre pada entitas tertentu yang bisa membentuk dan melanggengkan batas-batas kultural yang mempunyai keunggulan tersendiri karena dapat menekan pada kekuasaan, kontrol dan dominasi.
Mengenai politik, hal itu merupakan kekuasaan untuk menamai dan merepresentasi dunia, di mana bahasa bersifat konstitutif bagi dunia dan menjadi panduan untuk bertindak (Yordan dan Weedon, 1995). Cultural studies dan media merupakan bidang multidisiplin yang juga mengaburkan sekat-sekat antara dirinya dengan disiplin ilmu pengetahuan lainnya. Secara lebih spesifik makna dan kebenaran dalam domain budaya dibangun di dalam pola kekuasaan. Dalam politik terdapat hegemoni kekuasaan yang dibangun melalui penciptaan makna. Dimana representasi dan praktik dominan dan otoritatif diproduksi dan tetap dilestarikan. Menurut Gramsci (1971) hegemoni ideologis merupakan proses dimana cara pemahaman tentang dunia realitas menjadi begitu nyata dan alami, sehingga memandang alternatif sebagai sesuatu yang tidak masuk akal serta tidak dapat terpikirkan. Bagi Gramsci, pengetahuan dan budaya popular telah menjadi arena penting bagi tempat pertarungan ideologi kekuasaan itu. Membahas media dalam perspektif budaya, secara spesifik adalah memahami cara-cara produksi budaya dalam pertarungan ideologi.
Kajian budaya terhadap media dan teknologi secara kritis akan mengkaji proses-proses budaya alternatif pada media dalam menghadapi arus budaya, untuk memahami apa yang menyebabkan budaya alternatif itu tumbuh dan berkembang. Kajian budaya dan teknologi lebih cenderung menonjolkan kritik terhadap budaya popular yang termediasi. Ketika budaya telah bergeser menjadi sebuah industri maka budaya yang bersangkutan akan lebih dominan merepresentasikan modernitasnya. Sementara konsep-konsep budaya modernitas itu sendiri tidak bisa menolak hadirnya ideologi kapitalisme liberal. Dalam konteks ini budaya kapitalisme liberal lebih di maknai atas nilai materialnya ketimbang nilai spiritualnya.

Sumber Referensi

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. (2006). Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London.
Adi, Tri Nugroho. (2013). Mengenal Cultural Studies, Teori Postcolonial dan Postrukturalisme [Online]. Tersedia: http://sinaukomunikasi.wordpress.com/2013/07/20/mengenal-cultural-studies-teori-postcolonial-dan-postrukturalisme/ [17 April 2014]
Arindawati, Weny. (2013). Konsep Budaya dalam Kajian Budaya (Cultural Studies). [Online]. Tersedia: http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/21/konsep-budaya-dalam-kajian-budaya-cultural-studies-200323.html [17 April 2014]
Rahmawati, Aulia dan Syafrida Nurrachmi F. (2010). Cultural Studies : Analisis Kuasa Atas Kebudayaan. [Online], vol 2 (2), 17 halaman. Tersedia:http://eprints.upnjatim.ac.id/3177/1/2_Cultural_Studies_Analisis_Kuasa_Atas_Kebudayaan_-_Aulia_R_dan_Syafrida_NF.pdf [18 April 2014]
Arifiannto, S. “Konstruksi Teori-Teori dalam Perspektif Kajian Budaya dan Media” http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/aptika-ikp/files/2013/02/KONTRUKSI-TEORI-TEORI-DALAM-PERSPEKTIF-KAJIAN-BUDAYA-DAN-MEDIA-.pdf (Download 18 April 2014)


Komentar

Postingan Populer