Kelompok Era Media Baru

Perkembangan teknologi kini memunculkan media baru khususnya internet. Media baru merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara tenologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan (Flew, 2002). Lievrouw dan Livingstone (2005) mengungkapkan tiga unsur utama media baru yaitu a) perangkat yang memungkinkan dan memperluas kemampuan kita untuk berkomunikasi b) kegiatan komunikasi dan praktek yang terlibat dalam pengembangan dan penggunaan perangkat tersebut c) pengaturan sosial dan kelompok yang terbentuk di sekitar perangkat itu dan penerapannya. Perubahan media inilah yang mempengaruhi sebuah kelompok di dalam masyarakat.
Kelompok merupakan bentuk pluralitas individu yang saling berhubungan secara berkesinambungan, saling memperhatikan, dan sadar akan adanya suatu kemanfaatan bersama seperti yang diungkapkan oleh Olmsted (1962). Cooley dan Horton (1909) mendefinisikan kelompok sebagai bagian dari masyarakat dimana proses interaksi dan peranan individu dapat diamati dan diuji. Kelompok merupakan satu sistem yang bertujuan untuk mempertahankan eksistensinya. Kelompok tidak saja berubah secara konstan akan tapi bergantung pada penambahan fungsi, pengaruh positif sebagai faktor pengikat atau pemersatu dan seterusnya (Soekanto, 1986).
Kemajuan teknologi terhadap kelompok mendorong timbulnya sebuah kelompok kerja baru yang disebut kelompok kerja virtual. Kelompok kerja virtual adalah sekumpulan orang yang bekerja dalam sebuah proyek yang umum melalui teknologi misalnya email , pesan instan, dan data base bersama . Mereka menggunakan komputer agar dapat berinteraksi dengan anggota lain yang terpisah secara fisik guna mencapai tujuan bersama . Kelompok kerja virtual memiliki keunggulan dibanding kelompok kerja lainnya misalnya lebih cepat berbagi informasi , pengambilan keputusan dan perampungan pekerjaan. Kelompok kerja virtual  menggunakan teknologi komputer guna menghubungkan orang-orang yang terpisah secara fisik guna mencapai sasaran bersama. Teknik tersebut memungkinkan orang saling bekerjasama lewat metode online sebab dipisahkan jarak dan waktu.
Sedangkan peneliti lain menggagas kelompok yang disebut tim virtual. Ale Ebrahim, Ahmed, dan Taha (2009) mendefinisikan tim virtual sebagai kelompok kecil sementara secara geografis, organisasi dan/atau waktu tersebar diantara pekerja yang mengkoordinasikan pekerjaan mereka terutama dengan teknologi komunikasi dan informasi elektronik dalam rangka untuk mencapai satu atau lebih tugas dan tujuan organisasi. Lalu Powell, Piccoli dan Ives (2004) menyelidiki tentang tim virtual dan menyimpulkan bahwa penelitian mereka telah menemukan empat fokus utama dari tim maya ini dalam bagan berikut.

McGrath dan Hollingshead (1993) memberikan suatu sistem klasifikasi dari sistem komunikasi yang berdasarkan pada peran fungsional teknologi untuk mendukung kerja sama kelompok. Empat kategori dari sistem klasifikasi tersebut berdasarkan pada apakah teknologi dapat: (1) menyediakan proses komunikasi di dalam kelompok atau GCSS (group communication support system/sistem pendukung komunikasi kelompok); (2) menambah informasi yang tersedia kepada kelompok atau anggota kelompok melalui gambaran informasi dari database yang biasa disebut GISS (group information support system/sistem pendukung informasi kelompok); (3) mendukung komunikasi dengan pihak luar kelompok atau GXSS (group external support system/sistem pendukung eksternal kelompok); dan (4) menyusun kelompok melalui proses penampilan  tugas – tugas dan produksi tugas atau GPSS (group performance support system/sistem pendukung penampilan kelompok).

Pandangan Teoritis

Ada penelitian teoritis mengenai hubungan media dan kelompok ini mulai dari topik pilihan media atau pemilihan media lalu tentang efek media serta menjelajahi hubungan antara teknologi dan interaksi kelompok dengan mencoba untuk mengintegrasikan argumen yang ditawarkan oleh pilihan media dan teori efek media.
Short (1976) mengusulkan model kehadiran sosial  untuk memprediksi pengguna media yang akan menggunakan jenis interaksi tertentu. Daft dan Lengel (1986)  memperluas ide-ide yang terkandung pada model kehadiran sosial ke dalam teori tentang kekayaan media. Mereka mengusulkan bahwa berbagai bentuk komunikasi berbeda dalam kekayaan informasi yang mereka berikan. Kekayaan didefinisikan sebagai kemampuan media untuk memberikan beberapa isyarat verbal dan nonverbal, dan umpan balik langsung dan cepat, serta menggunakan beberapa modalitas seperti teks, video, audio, dan grafis. Fulk (1990) berpendapat tentang model pengaruh sosial. Mereka berpendapat bahwa keistimewaan yang objektif tentang kekayaan media dapat dan mempengaruhi persepsi individu tentang kesempurnaan media, tetapi terdapat beberapa sumber lain mengenai pengaruh, seperti interaksi sosial. Hasil ini mendukung gagasan bahwa anggota kelompok lainnya dapat mempengaruhi bagaimana individu memandang dan menggunakan teknologi.
Mengenai dampak media, Hiltz dan Turoff (1978) berpendapat bahwa kelompok yang berkomunikasi melalui komputer yang memiliki akses ke sebuah jalur komunikasi yang lebih sempit daripada kelompok yang berkomunikasi secara tatap muka. Menurut Kiesler dan Sproull (1992), individu yang terlibat dalam interaksi kelompok melalui komputer cenderung:
            Lebih anonim dan kurangnya individualitas dalam mitra komunikasi mereka
            Berpartisipasi lebih rata
     Fokus lebih pada tugas dan aspek instrumental, sehingga mengurangi aspek pribadi dan interaksi sosial
            Komunikasi lebih negatif dan pesan yang tanpa batasan
        Memiliki kesulitan dalam mencapai konsensus kelompok karena berkurangnya umpan balik dan perhatian dengan norma-norma sosial
Poole dan DeSanctis (1990) merumuskan teori strukurasi adaptif yang menekankan pentingnya proses interaksi kelompok, baik dalam menentukan hasil kelompok dan dalam menengahi efek dari teknologi tertentu setiap menyajikan. Pada dasarnya, teknologi sosial menyajikan suatu struktur aturan dan pekerjaan pada kelompok, akan tetapi kelompok tidak secara pasif memilih teknologi dalam bentuk yang sudah ada sebelumnya. Sebaliknya, kelompok aktif menyesuaikan teknologi untuk menyesuaikan sendiri. Dengan demikian, teknologi dapat dianggap sebagai sekumpulan praktek-praktek sosial yang muncul dan berkembang dari waktu ke waktu.
Jadi media baru dan kelompok senantiasa beradaptasi untuk bertahan hidup demi keutuhannya. Seperti apa yang dikemukakan  Roger Fidler (1997) bahwa media akan mengalami mediamorfosis. Kelompok pun juga melakukannya melalui sistem yang kompleks, dinamis, adaptif dan mengatur dirinya agar berkembang sesuai dengan perubahan.

Sumber Referensi
Flew, Terry. (2008).  New Media: An Introduction, Oxford University Press Australia & New Zealand.
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. (2006). Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London.
Adi, Tri Nugroho. (2014). Theories of Cyber Communication (4). [Online]. Tersedia: http://sinaukomunikasi.wordpress.com/2014/04/09/theories-of-cyber-communication-4/ [11 April 2014]
Artikel Nonpersonal, (2004). Virtual Team. [Online].  Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Virtual_team [12 April 2014]

Komentar

Postingan Populer